2/12/2015

Ja'afar Abi Talib RA - Sepupu Rasulullah SAW

JA’FAR BIN ABU THALIB






Jasmani Maupun Perangainya Mirip Rasulullah
Ja’far bin Abi Thalib dikenal juga dengan julukan Jafar-e-Tayyar adalah putera dari Abu Thalibpaman dari Nabi Muhammad, dan kakak dari Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib. Ja’far dibesarkan oleh pamannya, Abbas bin ‘Abdul Muththalib, karena ayahnya yang miskin dan harus menghidupi keluarga besar.



Jaafar bin Abi Talib atau nama gelarannya, Jaafar At-Tayyar meninggal dunia semasa mempertahankan pasukan Islam pada Perang Mu’tah. Jaafar digelar At-Tayyar kerana Rasulullah saw dikhabarkan oleh Allah swt bahawa Jaafar bin Abi Talib digantikan kedua-dua tangannya yang putus dengan sayap di syurga. Jaafar bin Abi Talib adalah abang kepada Ali bin Abi Talib.
Maqam Jaafar Abi Talib di Baqi - Madinah Al Munawwarh

Beliau adalah sepupu sekaligus sahabat Rasulullah yang mirip dengan Rasulullah baik wujud tubuh, tingkah laku atau budi pekertinya. Beliau diberi gelar “Bapak Si Miskin”, “Si Bersayap Dua di Surga” atau Si Burung Surga”. Muhammad memanggil Ja’far, “Bapak orang-orang Miskin“, karena ia selalu menolong dan membantu orang miskin dengan semua uang yang dimiliki.  Ja’far sangat mencintai dan mengasihi fakir miskin, memberi makan mereka dan mereka dekat dengannya, berdialog dengan mereka dan merekapun merasa diajak berbicara olehnya, Abu Hurairah pernah bercerita tentangnya : “Orang yang paling baik dan mengasihi orang-orang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib”. Beliau juga berkata : “Tidak ada seorangpun yang memakai sendal, mengendarai unta dan tidur diatas debu setelah Rasulullah SAW yang lebih baik selain Ja’far bin Abi Thalib”.
Ja’far bin Abi Thalib termasuk golongan awal memeluk Islam, sewaktu kecil dia dalam pengasuhan pamannya yaitu Al-Abbas, begitu juga saudaranya Ali bin Abi Thalib berada dalam pengasuhan Nabi Muhammad, Ja’far bin Abi Thalib menikah dengan Asma binti Umais.
Di Habsyi (Ethiopia)
Sewaktu Rasulullah memilih sahabat-sahabatnya yang akan hijrah ke Habsyi (Ethiopia), maka tanpa berfikir panjang Ja’far bersama istrinya tampil mengemukakan diri hingga tinggal di sana selama beberapa tahun. Di sana mereka dikaruniai Allah tiga orang anak yaitu: Muhammad, Abdullah, dan ‘Auf. kemudian melalui dia raja negeri Habasyah, An-Najasyi yaitu Ashhamad bin Al-Abjar masuk Islam setelah menerima surat dari Nabi Muhammad yang dikirim melalui Amr bin Ummayyah Adh-Dhamary.
Selama di Ethiopia, maka Ja’far bin Abi Thalib lah yang tampil menjadi juru bicara yang lancar dan sopan. Allah mengaruniakan kepadanya hati yang tenang, akal fikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca situasi dan kondisi serta lidah yang fasih.
Hal itu terbukti ketika berdialog dengan Negus, Raja Ethiopia pada saat kaum muslimin hijrah kesana. Kaum Quraisy tidak senang dan merasa cemas ketika kaum muslimin hijrah ke Ethiopia, khawatir kalau-kalau kaum muslimin di tempatnya yang baru menjadi bertambah kuat dan jumlahnya semakin banyak. Karena itulah para pemimin Quraisy mengirimkan dua utusannya yaitu Abdullah bin Rabi’ah dan Amar bin Ash (keduanya waktu itu belum masuk Islam) untuk menyampaikan harapan Quraisy agar Negus mengusir kaum muslimin yang hijrah dan menyerahkannya kepada mereka.
Negus merupakan seorang raja yang imannya kuat. Dalam lubuk hatinya, ia menganut agama Nasrani secara murni dan padu, jauh dari penyelewengan dan lepas dari fanatik buta dan menutup diri. Nama baiknya dan kisah perjalanan hidupnya yang adil tersebar kemana-mana. Karena itulah Rasulullah memilih negerinya menjadi tempat hijrah bagi sahabat-sahabatnya dan karena itu pula kaum kafir Quraisy khawatir kalau tipu muslihatnya menjadi gagal sehingga utusannya dibekali sejumlah hadiah yang berharga untuk pembesar-pembesar dan pejabat gereja di sana dengan tujuan agar para pendeta itu berpihak kepada mereka. Kedua utusan itu terus-menerus membangkitkan dendam kebencian di antara para pendeta terhadap kaum muslimin.
Pada saat Negus, dihadapkan dengan utusan Quraisy dan kaum muhajirin Islam, utusan Quraisy kembali mengulangi tuduhan terhadap kaum muslimin bahwa kaum muslimin itu adalah orang-orang bodoh dan tolol yang meninggalkan agama nenek moyang mereka tetapi tidak pula hendak memasuki agamanya Negus dan bahkan datang dengan agama baru yang mereka ada-adakan sehingga utusan itu meminta mereka dikembalikan pada kaumnya. Negus pun bertanya kepada kaum muslimin, agama apakah yang menyebabkan mereka meninggalkan bangsanya tetapi juga tidak memandang perlu pula terhadap agamanya(Nasrani).

Ja’far pun bangkit berdiri untuk menunaikan tugas yang telah diamanahkan padanya oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin yang mereka tetapkan dalam rapat yang diadakan sebelumnya. Dengan pandangan ramah penuh kecintaan kepada baginda raja yang telah baik menerima mereka, beliau berkata: “Wahai paduka yang mulia! Dahulu kami memang orang-orang jahil dan bodoh; kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji, memutuskan silaturrahmi, menyakiti tetangga dan orang yang berhampiran. Yang kuat waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah masanya Allah mengirimkan Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal asal-usulnya kejujurannya, ketulusan dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami untuk meng-esa-kan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya, dan agar membuang jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu, berupa batu-batu dan berhala. Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah, menghubungkan silaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari menumpahkan darah yang dilarang Allah. Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadap wanita yang baik-baik. Lalu kami benarkan ia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti dengan taat apa yang disampaikannya dari Tuhannya. Lalu kami beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikitpun juga, dan kami haramkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami. Karenanya kaum kami memusuhi kami dan menggoda kami dari agama kami, agar kami kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Maka sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, , kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan mereka.” Ja’far mengucapkan kata-kata yang mempesona itu laksana cahaya sehingga membangkitkan perasaan dan keharuan pada jiwa Negus. Ketika Negus menanyakan wahyu yang dibawa dari Rasulullah, Ja’far langsung membacakan bagian dari surat Maryam. Mendengarnya, Negus langsung menangis, begitu pula dengan para pendeta dan pembesar lainnya. Selanjutnya Negus mengatakan kepada kaum Quraisy bahwa sesungguhnya yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa as sama memancar dari satu pelita, karena itu utusan Quraisy dipersilahkan pergi dan beliau tidak akan menyerahkan kaum muslimin kepada mereka.
Tetapi keesokan harinya kedua utusan itu kembali menghadap Raja Negus hendak memojokkan kaum muslimin telah mengucapkan suatu ucapan keji yang merendahkan kedudukan Isa sehingga hal itu cukup menggoncangkan Negus dan para pengikutnya. Negus pun memanggil kaum muslimin kembali untuk menanyai bagaimana sebenarnya pandangan Agama Islam tentang Isa al-Masih. Ja’far pun bangkit sekali lagi dan berujar: ”Kami akan mengatakan tentang Isa as, sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad SAW, bahwa: “Ia adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari pada-Nya…” Negus bertepuk tangan tanda setuju seraya mengumumkan bahwa memang begitulah yang dikatakan al-Masih tentang dirinya. Akhirnya Negus mempersilahkan kaum muslimin itu untuk tinggal bebas di negerinya dan akan melindungi mereka serta mengusir para utusan Quraisy dengan mengembalikan hadiah-hadiahnya.
Kembali ke Yastrib (Madinah)
Ja’far bin Abi Thalib kembali pulang dari Habasyah sewaktu penaklukan Khaibar dan ikut menuju Khaibar bersama dengan Abu Musa Al-Asyary. Pada tahun ke 8 Hijriyyah, Di kala Rasulullah bersama Kaum Muslimin sedang bersukaria dengan kemenangan atas jatuhnya Khaibar tiba-tiba mucullah Ja’far bin Abi Thalib bersama sisa Muhajirin lainnya dari Ethiopia. Tak terkatakan besarnya hati Nabi dan betapa bertambah bahagia dan gembiranya ia karena kedatangan mereka. Dipeluknya Ja’far bin Abi Thalib dengan mesra sambil berkata “Aku tak tahu entah mana yg lebih menggembirakanku Apakah dibebaskannya Khaibar atau kembalinya Ja’far bin Abi Thalib.” Dengan berkendaraan Rasulullah pergi bersama sahabat-sahabatnya ke Mekah untuk melaksanakan umrah qadla. Sekembalinya ke Madinah jiwa Ja’far bin Abi Thalib bergelora dan dipenuhi keharuan setelah mendengar berita dan cerita sekitar sahabat-sahabatnya kaum muslimin baik yang gugur sebagai syuhada maupun yg masih hidup selaku pahlawan-pahlawan yg berjasa dari perang Badar, perang Uhud, Khandak, dan peperangan-peperangan lainnya. Kedua matanya basah berlinang mengenang mukminin yg telah menepati janjinya dengan mengorbankan nyawa karena Allah. “Kapankah aku akan berbuat demikian?”pikirnya. Hatinya terasa terbang merindukan surga ia pun menunggu-nunggu kesempatan dan peluang yang berharga itu, berjuang sebagai syahid di jalan Allah.
Peperangan melawan Pasukan Romawi
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun kedelapan hijriah Rasulullah SAW. menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Rum di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan. Rasulullah SAW. bersabda, “Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan, apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslimin memilih pemimpin/komandan di antara mereka. “
Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordan, mereka mendapati tentara Rum telah siap menyambut kedatangan mereka dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100 ribu milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.  Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syuhada ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh. Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya.


Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegangnya bendera komando dengan tangan kirinya. Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abi Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syuhada, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.
Maqam Jaafar Abi Talib - Juga dirikan di Mazar, Jordan
Rasulullah SAW. sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja’far bin Abi Thalib anak pamannya. Didapatinya Asma’, isteri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’ bercerita, “Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami.”
Beliau berkata, “Mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.” Maka kupanggil mereka semua dan kusuruh menemui Rasulullah SAW. Anak-anak berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada beliau. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka. Saya bertanya, “Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?”
Beliau menjawab, “Ya …, mereka telah syahid hari ini.” Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka. Rasulullah berucap sambil menyeka air matanya,“Wahai Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya … wahai Allah, gantilah Ja’far bagi isterinya.”“Aku melihat sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya.” Kemudian kata beliau selanjutnya,
Demikianlah Ja’far mempertaruhkan nyawa dalam menempuh suatu kematian agung yang tiada taranya. Begitulah caranya ia menghadap Allah, berselimut darah kepahlawanannya. Menurut Abdullah bin Umar, ketika mendapati jasadnya, didapati luka-luka bekas tusukan pedang dan lemparan tombak lebih dari 90 tempat di tubuh Ja’far. Dan Rasulullah bersabda mengenai dirinya: “Aku telah melihatnya di surga…., kedua bahunya yang penuh bekas-bekas cucuran darah penuh dihiasi dengan tanda-tanda kehormatan…!”


PS: Maqam pada pengertian bangsa Arab, boleh diertikan sebangai kubur dimana jasad di kebumikdan juga Maqam, menandakan tempat itu pernah di duduki atau singgah sebentar kerana pengembaraan, musafir atau peperangan,jadi maqam Jaafar Abi Talib ini didirikan di Jordan  kerana beliau gugur syahid di tempat ini ketika peperangan Mutah..walaubagaimana pun beliau di kuburkan di Baqi..

Abu Darda Radhiyallahu RA Sahabat Yang Zuhud Dan Taat Beribadah


Abu Darda Radhiyallahu RA Sahabat Yang Zuhud Dan Taat Beribadah

Sayidina Abu Darda  Syria Image
Maqam Abu Darda Di Damsyik Syria
Nama beliau adalah Uwaimir bin Amir bin Mâlik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka`b bin Khazraj bin al-Harits bin Khazraj. Ada yang berpendapat, namanya adalah Amir bin Mâlik, sedangkan Uwaimir adalah julukannya. Ibunya bernama Mahabbah binti Wâqid bin Amir bin Ithnâbah. Beliau termasuk Sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk Sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Salman al-Fârisi Radhiyallahu anhu . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Uwaimir adalah hakîmul ummah (seorang yang sangat bijaksana).” Beliau Radhiyallahu anhu mengikuti berbagai peperangan setelah perang Uhud. Adapun keikutsertaan beliau dalam perang Uhud masih diperselisihkan. [Usudul ghâbah 5/97]


BELIAU ADALAH SAHABAT YANG ZUHUD DAN RAJIN BERIBADAH
Abu Juhaifah Wahb bin `Abdillâh Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman al-Fârisi dan Abu Darda` Radhiyallahu anhuma.” Setelah itu Salmân Radhiyallahu anhu mengunjungi Abu Darda` Radhiyallahu anhu. Dia melihat Ummu Darda`Radhiyallahu anha memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. Salman Radhiyallahu anhu bertanya kepadanya, “Wahai Ummu Darda`, kenapa engkau berpakaian seperti itu?”

Ummu Darda` Radhiyallahu anha menjawab, “Saudaramu Abu Darda` Radhiyallahu anhu sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu shalat malam.”

Lantas datanglah Abu Darda` Radhiyallahu anhu dan menghidangkan makanan kepadanya seraya berkata, “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa”

Salman Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak akan makan hingga engkau makan.” Lantas Abu Darda` Radhiyallahu anhu pun ikut makan.

Tatkala malam telah tiba, Abu Darda` Radhiyallahu anhu pergi untuk mengerjakan shalat. Akan tetapi, Salman Radhiyallahu anhu menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah” dan dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak shalat, dan Salman Radhiyallahu anhu berkata lagi kepadanya, “tidurlah.” (dia pun tidur lagi-pen)

Ketika malam sudah lewat Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu , “Wahai Abu Darda`, sekarang bangunlah”. Maka keduanya pun mengerjakan shalat”

Setelah selesai shalat, Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu, “ (Wahai Abu Darda`) sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.”

(selanjutnya) Abu Darda` Radhiyallahu anhu mendatangi Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salman benar” [HR. al-Bukhâri no. 1867., kitab Ash-Shahâbah hlm.462]

Dalam riwayat lain yang lain, Abu Darda` Radhiyallahu anhu mengatakan, “Tatkala Nabi diutus menjadi rasul, ketika itu aku adalah seorang pedagang. Aku ingin menggabungkan ibadahku dan pekerjaanku, namun keduanya tidak bisa bersatu. Kemudian aku pun meninggalkan pekerjaanku dan memilih beribadah kepada Allah Azza wa Jalla . Demi Allah Azza wa Jalla , alangkah senangnya seandainya aku memiliki toko di jalan menuju pintu masjid hingga aku tidak meninggalkan shalat. Aku bisa mendapatkan keuntungan empat puluh dinar dan bisa aku sedekahkan semua di jalan Allah Azza wa Jalla .”

Seseorang bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Darda` Radhiyallahu anhu , kenapa engkau membenci hal (harta) itu?”

Beliau menjawab, “Aku takut (hisab yang dahsyat). Pada hari kiamat Allah Azza wa Jalla akan menghisab hartaku ini dan bertanya kepadaku dua hal :

Pertama : Darimana harta itu diperoleh, dan 
Kedua : Kemana harta itu dibelanjakan. Harta yang halal ada hisabnya dan harta yang haram ada siksanya.” [Ash-Shahâbah hlm. 461-463]

Dalam riwayat lain Abu Darda` Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku senang seandainya aku bisa berdagang di jalan dekat pintu masjid, setiap harinya aku bisa memperoleh 300 dinar dan aku bisa mengerjakan shalat lima waktu di masjid. Aku tidaklah mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Akan tetapi aku lebih senang menjadi orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari beribadah kepada Allah Azza wa Jalla .’” [Al-Hilyah 1/20 / Ash-Shahabah hlm. 463]

KISAH BERPULANGNYA BELIAU RADHIYALLAHU ANHU MENGHADAP ALLAH AZZA WA JALLA
Syumaith bin Ajlân rahimahullah berkata, “Tatkala Abu Darda` Radhiyallahu anhu hendak meninggal dunia, beliau merasa gelisah. Ummu darda` Radhiyallahu anha berkata kepadanya, ‘(Wahai Abu Darda`), bukankah engkau pernah memberitahuku bahwa engkau mencintai kematian?’ Abu Darda` Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Demi Allah, benar’, akan tetapi tatkala aku yakin akan meninggal dunia, aku menjadi benci kepada kematian, kemudian Abu Darda` Radhiyallahu anhu menangis dan mengatakan, ‘Sekarang adalah detik-detik akhir hidupku di dunia ini. Bimbinglah aku mengucapkan lâ ilâha illallâh.’ Akhirnya Abu Darda` Radhiyallahu anhu senantiasa mengucapkan kalimat itu hingga meninggal dunia.” Beliau wafat dua tahun sebelum pembunuhan Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu . Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat setelah perang Siffin. Ada yang mengatakan tahun 23 atau 24 H. di kota Dimasyq dan ada juga yang mengatakan tahun 38 atau 39. Akan tetapi, yang masyhur dari kebanyakan para ahli ilmu adalah beliau wafat pada masa kekhalifahan Utsmân Radhiyallahu anhu . [Usudul Ghâbah 4/18-19, no. 4136]

DI ANTARA PESAN-PESAN ABU DARDA RADHIYALLAHU ANHU
Beliau mengatakan, “Seandainya kalian mengetahui apa yang akan kalian lihat setelah kematian, pasti kalian tidak akan berselera untuk makan, minum, dan berteduh di dalam rumah. Kalian akan keluar menuju tempat-tempat yang tinggi dan memukul-mukul dada kalian serta menangisi diri-sendiri. Sungguh, aku lebih senang menjadi sebatang pohon yang dikunyah kemudian ditelan. [Az-Zuhd, Imam Ahmad/ Ash-Shahâbah hlm. 465]

Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan sedikit gembira dan jarang berbuat hasad”

Beliau berkata, “Ada 3 hal yang membuatku tertawa dan 3 hal yang membuatku menagis. 3 hal yang membuatku tertawa yaitu :

Pertama : Orang yang cita-citanya adalah duniawi, padahal kematian selau mengintainya

Kedua: Orang yang lalai dari kematian, padahal kematian tidak pernah lalai kepadanya, dan 

Ketiga: Orang yang berlalu banyak tertawa, ia tidak tahu apakah Allah Azza wa Jalla murka atau ridha kepadanya. 

Adapun 3 hal yang membuatku menangis adalah, dahsyatnya kiamat, terputusnya amal, dan keadaanku di hadapan Allah Azza wa Jalla , apakah akan dimasukkan di surga atau neraka.”

Beliau juga pernah berkata, “Wahai manusia, injakkan kakimu ke tanah. Sesungguhnya sebentar lagi ia akan menjadi kuburmu. Wahai manusia, sesungguhnya hidupmu hanya beberapa hari, tiap kali waktu berlalu, berarti sebagian hidupmu telah pergi. Wahai manusia, engkau sekarang ini selalu menghabiskan umurmu sejak lahir dari rahim ibumu. ” Seorang penyair mengatakan:

نَسِيْرُ إِلَى اْلآجَالِ مِنْ كُلِّ لَحْظَةٍ وَأَيَّامُنَا تُطْوَى وَهُنَّ مَرَاحِلُ
وَلَمْ أَرَ مِثْلَ الْمَوْتِ حَقًّا كَأَنَّهُ إِذَامَا تَخَطَّتْهُ اْلأَمَانِيَّ بَاطِلُ
وَمَا أَقْبَحَ التَّفْرِيْطَ فِيْ زَمَنِ الصِّبَا فَكَيْفَ بِهِ وَالشَّيْبُ لِلرَّأْسِ شَاعِلُ
تَرَحَّلْ مِنَ الدُّنْيَا بِزَادٍ مِنَ التُّقَى فَعُمْرُكَ أَيَّامٌ وَهُنَّ قَلاَ ئِلُ

Kita berjalan menuju ajal dalam setiap detiknya
Hari-hari kita selalu berlalu, dan memiliki tahapan-tahapan

Aku belum pernah melihat ada sesuatu yang lebih meyakinkan daripada kematian 
Bahagian Pintu Masuk Maqam Abu Darda
Seolah-olah, semua yang tidak dijangkau oleh angan-angan (kematian-pen), tidak bisa diterima.

Alangkah buruknya perbuatan kita (meninggalkan agama-pen) tatkala muda
Lantas, bagaimana seseorang itu tetap meninggalkan agama, padahal ubannya telah menyala

Berjalanlah kamu di dunia ini dengan bekal takwa
Karena, umurmu hanyalah beberapa hari, dan itu sangatlah sedikit

Demikian sosok sahabat yang agung, mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai suri teladan yang baik. Wallâhu a`lam

Referensi
1. Kitab Ash-Shahabah,Dr, Shalih bin Thaha Abdul Wahid, Maktabah Ghuraba
2. Usudul Ghâbah fi Makrifati Shahabah, Izzudin bin Atsir Abil Hasan Ali bin Muhammad al-Jaziri


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

2/10/2015

Riwayat Hidup Bilal Bin Rabah





Bilal bin Rabah adalah seorang budak yang berasal dari Habasyah (sekarang disebut Ethiopia). Bilal dilahirkan di daerah Sarah kira-kira 34 tahun sebelum hijrah dari seorang ayah yang dikenal dengan panggilan Rabah. Sedangkan ibunya dikenal dengan Hamamah. Hamamah ini adalah seorang budak wanita yang berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Oleh karenanya, sebagian orang memanggilnya dengan nama Ibnu Sauda (Anaknya budak hitam).

Masa kecil Bilal dihabisakan di Mekah, sebagai putra dari seorang budak, Bilal melewatkan masa kecilnya dengan bekerja keras dan menjadi budak. Sosok Bilal digambarkan sebagai seorang yang berperawakan khas Afrika yakni tinggi, besar dan hitam. Dia menjadi budak dari keluarga bani Abduddar. Kemudian saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang yang menjadi tokoh penting kaum kafir.

Bilal termasuk orang yang teguh dengan pendiriannya. Ketika Rasulullah Saw mulai menyampaikan risalahnya kepada penduduk Mekah, beliau telah lebih dahulu mendengar seruan Rasulullah saw yang membawa agama Islam, yang menyeru untuk beribadah kepada Allah yang Esa, dan meninggalkan berhala, menggalakkan persamaan antara sesama manusia, memerintahkan kepada akhlak yang mulia, sebagaimana beliau juga selalu mengikuti pembicaraan para pemuka Quraisy seputar Nabi Muhammad saw.

Beliau mendengar tentang sifat amanah Rasulullah saw, menepati janji, kegagahannya, kejeniusan akalnya, menyimak ucapan mereka : “Muhammad sama sekali tidak pernah berdusta, beliau bukan ahli sihir, bukan orang gila, dan terakahir beliau juga mendengar pembicaraan mereka tentang sebab-sebab permusuhan mereka terhadap Nabi Muhammad saw.

Maka Bilal-pun pergi menghadap Rasulullah saw untuk mengikrarkan diri masuk Islam karena Allah Tuhan semesta alam, kemudian menyebarlah perihal masuknya Bilal kedalam agama Islam diseluruh penjuru kota Mekah, hingga sampai kepada tuannya Umayyah bin Khalaf dan menjadikannya marah sekali sehingga ingin menyiksanya dengan sekeras-kerasnya.

Bilal termasuk golongan orang yang pertama-tama masuk Islam. Masuknya Bilal ke dalam ajaran Islam mengakibatkan penderitaan yang mendalam karena berbagai siksaan yang diterima dari majikannya. Apalagi sang majikan Umayyah bin Khalaf termasuk tokoh penting kaum kafir Quraisy. Siksaan yang diterima Bilal memang cukup berat, hal ini karena Bilal adalah seorang budak yang lemah dan tidak mempunyai kuasa apapun. Berbeda dengan para sahabat Nabi Saw yang lain seperti Abu BakarAli bin Abi Thalib yang mempunyai keluarga dan siap melindungi menghadapi ulah kaum kafir yang senantiasa mengganggu dan menghalangi kaum muslimin dengan berbagai cara.

Penyiksaan kaum kafir Quraisy terhadap para budak yang mustad’afin memang sangat kejam. Hal ini juga dirasakan oleh Bilal bin Rabah yang diperlakukan secara kejam oleh Umayyah bin Khalaf beserta para algojonya. Bilal dicambuk hingga tubuhnya yang hitam tersebut melepuh. Tetapi dengan segala keteguhan hati dan keyakinannya, dia tetap mempertahankan keimanannya meski harus menahan berbagai siksaan tanpa bisa melawan sedikitpun. Setiap kali dia dicambuk, dia hanya bisa mengeluarkan kata-kata: “Ahad, Ahad (Tuhan Yang Esa)”. Tidak hanya sekedar dicambuk, kemudian Umayyah pun menjemur Bilal tanpa pakaian di tengah matahari yang sangat terik dengan menaruh batu yang besar di atas dadanya. Dengan segala kepasrahan, lagi-lagi Bilal pun hanya bisa berkata: “Ahad, Ahad”. Setiap kali menyiksa Bilal, Umayyah selalu mengingatkannya untuk kembali pada ajaran nenek moyang, dan Tuhannya Latta, Uzza, tetapi Bilal tidak pernah menyerah dengan keadaan. Dia tetap kukuh dan terus berkata: “Ahad, Ahad” setiap kali siksaan itu datang kepadanya. Semakin Bilal teguh dan kuat, semakin keras Umayyah menyiksa Bilal. Bahkan dia mengikatkan sebuah tali besar di leher Bilal lalu menyerahkannya kepada orang-orang bodoh dan anak-anak. Umayyah menyuruh mereka untuk membawa keliling Bilal ke seluruh perkampungan Mekah serta menariknya ke seluruh dataran yang ada di kota tersebut.

Akhirnya Allah mengakhiri siksaan demi siksaan yang dialami oleh Bilal melalui Abu Bakar As Shiddiq. Suatu hari, disaat Bilal kembali disiksa oleh majikannya Umayyah, Abu Bakar sedang lewat tidak jauh dari tempat penyiksaannya. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bermaksud membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf. Lalu Umayyah pun meninggikan harganya karena ia menduga bahwa Abu Bakar tidak akan mampu untuk membayarnya.

Namun Abu Bakar mampu membayarnya dengan 9 awqiyah dari emas. Umayyah berkata kepada Abu Bakar setelah perjanjian jual-beli ini usai: “Kalau engkau tidak mau mengambil Bilal kecuali dengan 1 awqiyah emas saja, pasti sudah aku jual juga.” Kemudian Abu Bakar menjawab: “Jika engkau tidak mau menjualnya kecuali dengan 100 awqiyah, pasti aku akan tetap membelinya!”

Begitu Abu Bakar As Shiddiq memberitahukan Rasulullah Saw bahwa dia telah membeli Bilal dan menyelamatkannya dari tangan penyiksa, maka Nabi Saw bersabda: “Libatkan aku dalam pembebasannya, wahai Abu Bakar!” As Shidiq lalu menjawab: “Aku telah membebaskannya, ya Rasulullah.”

Begitulah akhirnya Bilalpun menjadi seorang yang merdeka dan selamat dari siksaan sang majikan. Kebebasannya menjadikan Bilal seorang yang semakin taat mengikuti ajaran agama Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah. Bilal pun turut serta berhijrah ke Madinah untuk menjauhi siksaan kaum kafir Quraisy Mekah. Dia mengabdikan diri sepanjang hidupnya kepada Rasul yang sangat dicintainya. Dia menjadi pengikut Rasul yang setia dan selalu mengikuti setiap peperangan yang terjadi pada masa itu. Bahkan dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akhirnya Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf mantan majikannya tewas di tangan pedang kaum muslimin.

Ketika Rasulullah Saw selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal bin Rabah ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muazin) dalam sejarah Islam. Bilal pun menjadi Muadzin tetap pada masa Rasulullah Saw. Suaranya yang begitu merdu sangat menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Rasulullah sangat menyukai suara Bilal. Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Saw seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Saw keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Ketika Rasulullah Saw akan menaklukkan kota Mekah, Bilal berada di samping beliau. Saat Rasulullah Saw memasuki Ka’bah, Beliau hanya didampingi oleh 3 orang saja, mereka adalah: Utsman bin Thalhah sang pemegang kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid orang kesayangan Rasulullah dan anak dari orang kesayangan Beliau Zaid bin Haristah, serta Bilal bin Rabah sang muadzin Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw menyuruh Bilal untuk naik di atas ka’bah dan menyerukan kalimat tauhid. Bilal menyerukan adzan dengan suara yang keras dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Ribuan leher manusia melihat ke arah Bilal. Ribuan lisan manusia yang mengikuti ucapan Bilal dengan hati yang khusyuk. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu…. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Saw masuk ke kota Mekah.

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Al-Hakam bin Abu al-‘Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Pada suatu hari, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar bin Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu kemana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Begitulah sosok Bilal, dia selalu berada di belakang Rasulullah dalam kondisi apapun. Kecintaannya terhadap Rasulullah Saw pernah membuatnya terbuai dalam mimpi bertemu dengan Rasul sepeninggal beliau. Dalam mimpinya itu, Rasulullah Saw berkata kepada Bilal: “Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” Kemudian Bilal menjawab: “Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu. Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal bin Rabah segera memenuhi ruangan kosong dihampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.

Sesaat setelah Rasulullah Saw menghembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir disana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Maqam Tuan Bilal bin Rabah.Diriwayatkan bahawa Saidina Bila wafat di zaman pemerintahan Khalifah Umar R.A. Tarikh wafatnya dikatakan pada 20 hijrah, ada juga yang mengatakan pada 17hijrah, ada juga yang mengatakan pada 18hijrah dan dikebumikan di ‘Babus Soghir” Damsyiq. Maqamnya jelas dan terkenal.

Sejak kepergian Rasulullah Saw, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Sehingga kaum muslimin yang mendengarnya ikut larut dalam tangisan pilu. Karena itulah kemudian Bilal memohon kepada Abu Bakar, sang khalifah yang menggantikan posisi Rasulullah Saw sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.” Kemudian Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”. Mendengar jawaban Abu Bakar, Bilal segera menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Saw wafat.” Akhirnya Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.

Pada suatu hari, ia bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw bersabda kepadanya, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah menjengukku ?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal ra pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain ra meminta Bilal ra agar mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika ia mulai mengumandangkan adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti ketika zaman Rasulullah saw masih hidup. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan Bilal ra itu. Setelah beberapa hari lamanya Bilal ra tinggal di Madinah, akhirnya ia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.

Pada waktu kedatangaUmar bin Khatthab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal setelah terpisah cukup lama. Pada saat itu khalifah Umar bin Khattab baru saja menerima kunci kota Yerussalem. Dalam pertemuan tersebut khalifah Umar bin Khattab meminta kepada Bilal untuk mau mengumandangkan adzan dan akhirnya Bilal mau menuruti permintaan sang khalifah. Mendengar Bilal menyuarakan adzan, kaum muslimin merasa sangat terharu, bahkan Umar tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menangis tersedu-sedu. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Saw. BiIal adalah pengumandang seruan langit itu.
Peristiwa tersebut merupakan adzan terakhir yang diperdengarkan oleh suara merdu dan syahdu Bilal bin Rabah dihadapan kaum muslimin. Bilal tetap tinggal di Damaskus hingga akhir hayatnya. Menjelang wafatnya Bilal pada tahun keduapuluh Hijriyah untuk menghadap sang Khalik, Bilal seringkali mengucapkan kata-kata secara secara beulang-ulang, kata tersebut adalah:

Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…

Muhammad dan sahabat-sahabatnya

Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…

Muhammad dan sahabat-sahabatnya”


Bilal –semoga Allah meridhainya- merupakan seorang hamba yang taat, wara’, tekun beribadah, nabi pernah bersabda kepadanya setelah shalat subuh : “Ceritakan kepada saya perbuatan apa yang telah engkau lakukan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara sendal kamu berada di pintu surga”, Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat; baik malam dan siang hari kecuali saya melakukan shalat sebagaimana yang ditentukan untuk saya melakukan shalat”. (Al-Bukhari).

Demikianlah kisah seorang Bilal, keteguhan, ketegaran dan keyakinannya akan ajaran kebenaran, telah mengangkat derajadnya dan menjadikannya seorang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya meskipun dia berasal dari seorang budak hitam yang hina dan fakir. Sebuah kisah teladan bagi kita semua.


1/11/2015

Abu Ubaidah bin Jarrah

ABU UBAIDAH BIN JARRAH




Nama sebenarnya Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Hilal Al Fihri Al Quraisy. Terkenal dengan nama Abu Ubaidah Al Jarrah. Beliau lahir di Mekah dari sebuah keluarga Quraisy yang terhormat. Keluarganya dari kalangan pedangang Arab. Beliau termasuk orang yang awal masuk Islam, selepas Abu Bakar as Siddiq.

Beliau salah seorang sahabat yang dijamin masuk Syurga. Berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, selalu merendah diri dan amat pemalu. Kerana itu beliau disenangi oleh mereka yang mengenalinya.

Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam. Kehebatannya dapat kita ketahui melalui sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah yang dijuluki dengan nama Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, beliau disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.

Abu Ubaidah termasuk orang yang masuk Islam dari sejak awal, beliau memeluk Islam selang sehari setelah Saidina Abu Bakar as-Shiddiq ra memeluk Islam. Beliau masuk Islam bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Uthman bin Maz’un dan Arqam bin Abu al-Arqam, di tangan Abu Bakar as-Shiddiq. Saidina Abu Bakarlah yang membawakan mereka menemui Rasulullah s.a.w. untuk menyatakan dua kalimah syahadat di hadapan Baginda.

Kehidupan beliau tidak jauh berbeza dengan kebanyakan sahabat lainnya, diisi dengan pengorbanan dan perjuangan menegakkan Agama Islam. Hal itu tampak ketika beliau harus hijrah ke Ethiopia pada gelombang kedua demi menyelamatkan aqidahnya. Namun kemudian beliau balik kembali untuk menyertai perjuangan Rasulullah s.a.w..

Abu Ubaidah sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah s.a.w.. Beliaulah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar. Dalam perang Badar Abu Ubaidah al Jarrah cuba mengelak dari bertembung dengan ayahnya yang berada dalam pasukan Quraisy yang menentang Rasulullah s.a.w..

Tetapi ayahnya telah bersumpah hendak membunuh anaknya sendiri kerana menjadi pengikut Muhamad. Abdullah terus memburu anaknya hingga suatu ketika dalam peperangan Badar Abu Ubaidah al Jarrah terpaksa berdepan dengan ayah sendiri. Dalam pertarungan itu Abu Ubaidah al Jarrah terpaksa membunuh ayahnya. Beliau berasa amat sedih sehingga turun ayat Al-Quran surah Al Mujadalah ayat 22.

Sifat Mulia

Ketika dalam peperangan Uhud, tatkala pasukan muslimin kucar kacir dan banyak yang lari meninggalkan medan pertempuran, Abu Ubaidah berlari untuk mendapatkan Nabinya tanpa takut sedikit pun terhadap pihak lawan dan rintangan. Apabila didapati pipi Nabi terluka, iaitu terhujamnya dua rantai besi penutup kepala beliau, segera ia berusaha untuk mencabut rantai tersebut dari pipi Nabi S.A.W..

Abu Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itu pun akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah s.a.w.. Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tidak putus asa. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap dipipi Rasulullah s.a.w. hingga terlepas. Dan kali ini pun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu Ubaidah sehingga dua gigi depan sahabat ini rongak kerananya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang tak ternilai.

Dalam riwayat yang lain Abu Ubaidah mencabut anak panah yang terkena pada rahang Baginda s.a.w.

Rasulullah s.a.w. memberinya gelaran “Gagah dan Jujur”. Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristian menemui Rasulullah s.a.w.. Mereka mengatakan, “Ya Abul Qassim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang kami pertengkarkan, kerana kaum muslimin di pandangan kami adalah orang yang disenangi.” Rasulullah s.a.w. bersabda kepada mereka, “Datanglah ke sini petang nanti, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang gagah dan jujur.”

Dalam kaitan ini, Saidina Umar bin Al-Khattab ra mengatakan, “Saya berangkat tergesa-gesa untuk menunaikan solat Zohor, sama sekali bukan kerana ingin ditunjuk sebagai delegasi. Setelah Rasulullah selesai mengimami solat Zohor bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih terus membalik-balik pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau memanggilnya sambil bersabda, ‘Pergilah bersama mereka, selesaikanlah kes yang menjadi perselisihan di antara mereka dengan adil.’ Lalu Abu Ubaidah pun berangkat bersama mereka.”

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah al Jarrah.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda lagi.

“Tiap-tiap umat ada orang yang memegang amanah. Dan pemegang amanah umat ini ialah Abu Ubaidah al Jarrah.”

Beliau juga seorang yang zuhud, tidak tamak kuasa dan harta. Di bawah pemerintahan khalifah Umar al Khattab, Abu Ubaidah al Jarrah dilantik menjadi ketua pasukan tentera Islam bagi menakluk kota-kota besar yang berada di bawah pemerintahan Rom seperti Kota Damsyik, Syria, Syam, Kota Aleppo, Kota Hims, Kota Antakiah dan Kota al Quds di Baitul Maqdis.

Ketika khalifah Umar al Khattab berkunjung ke Baitul Maqdis, beliau singgah di rumah Abu Ubaidah al Jarrah. Dilihatnya yang ada dalam rumah ketua panglima Islam itu hanyalah pedang, perisai dan pelana kuda sahaja. Lalu Saidina Umar bertanya kepadanya:
Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebagaimana orang lain mengambilnya?” Tanya Umar al Khattab.

Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup bagiku,” jawab Abu Ubaidah al Jarrah.
Saidina Umar al Khattab melantik Abu Ubaidah al-Jarrah memimpin tentera Islam bagi merebut kembali kawasan tanah Arab yang dijajah oleh kerajaan Rom. Beliau berjaya dalam tugas yang diberikan itu sehingga berjaya menakluk Baitul Maqdis.

Sepeninggalan Rasulullah s.a.w., Umar bin Al-Khattab ra mengatakan kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah di hari Tsaqifah, “Hulurkan tanganmu! Agar saya baiat kamu, kerana saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Sungguh dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah.’ Lalu Abu Ubaidah menjawab: Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah s.a.w. menjadi imam kita di waktu solat (iaitu Saidina Abu Bakar as-Shiddiq ra), oleh sebab itu kita patut menjadikannya imam sepeninggalan Rasulullah s.a.w.:.

Peperangan Yang Disertai.Abu Ubaidah bin al-Jarrah ra ikut serta dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu memperolehi kemenangan besar dalam setiap peperangan tersebut. Beliau berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah beliau berjaya menakluk semua negeri tersebut.

Ketika wabak penyakit Taun bermaharajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Al-Khattab ra mengirim surat untuk memanggil kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi,

Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah tentera Muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah bebaskan saya dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.”

Setelah Umar ra membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, “Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?” Umar menjawabnya, “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.”

Sepeninggalan Abu Ubaidah ra, Saidina Muaz bin Jabal ra berpidatu di hadapan kaum Muslimin yang berbunyi, “Hai sekalian kaum Muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari beliau. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah.”

Menjelang kematian Abu Ubaidah ra, beliau berpesan kepada tenteranya, Sebelum meninggal dunia Abu Ubaidah al Jarrah sempat berpesan kepada tenteranya, “Dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah. Berilah nasihat kepada pimpinan kamu, jangan menipu, jangan terpesona dengan harta dunia. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia, kerana itu semua manusia pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat.”. Assalamualaikum”.

Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal ra dan mengatakan, “Ya Muaz! Imamilah solat mereka.” Setelah itu, Abu Ubaidah ra pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Setelah Abu Ubaidah al Jarrah meninggal dunia, Muaz bin Jabal mengambil alih tempatnya lalu berucap di hadapan orang ramai.

Wahai sekalian kaum Muslimin! Kamu sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah.”

KematiannyaAbu Ubaidah al Jarrah meninggal dunia pada tahun 18 Hijrah di Urdun dalam wilayah Syam, kerana diserang penyakit taun. Jenazahnya dikebumikan di kawasan yang pernah dibebaskannya daripada kekuasaan Rom dan Parsi. Ketika itu beliau berumur 58 tahun. Beliau di kebumikan di Urdun (Jordan).

Sumber : Kitab Sirah Rasulullah, 75 gambaran kehidupan sahabat, 10 sahabat yang dijanjikan syurga.




Said bin Zaid RA


SAID  BIN ZAID RA




Said bin Zaid adalah seorang yang hanif.


SAID bin Zaid bin Amru bin Nufail Al Adawi atau sering juga disebut sebagai Abul A’waar, lahir di kota Makkah 22 tahun sebelum Hijrah. Beliau termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga oleh Rasulullah SAW Beliau memeluk Islam di awal-awal dakwah Rasulullah Saw di kota Makkah. Saat orang-orang ramai menentang seruan Rasulullah SAW dan rumah Arqam bin Abil Arqam belum ditetapkan sebagai markas dakwah yang pertama, Said hadir dan mewarnai kehidupan Islam Makkah bersama istrinya, Fathimah.
Ada baiknya, sebelum kita mengenal lebih jauh siapa sosok sahabat mulia ini, terlebih dahulu kita melihat sekilas profil ayahnya, Zaid bin Amru bin Nufail. Seorang ayah yang membesarkan anaknya dengan keteladanan, hingga lahirlah darinya generasi seperti Said.


Ayah Yang Hanif


Semasa hidupnya, Zaid tidak suka dan tidak pernah mau mengikuti ajaran jahiliyah. Beliau, yang diberi gelar hanif (orang yang lurus agamanya), dikenang kebaikannya karena sering menyelamatkan bayi perempuan yang hendak dikubur hidup-hidup yang mana itu telah menjadi traidisi Arab jahiliah. Bila ada anak yang hendak dibunuh kala itu, Zaid akan mengambilnya sebagai anak angkat. Beliau juga tak pernah menyekutukan Allah, juga tak pernah menggunakan apa pun sebagai perantaranya dengan Allah.

Suatu kali, Zaid berdiri di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Mereka berdesak-desakan menyaksikan kaum Quraisy berpesta merayakan salah satu hari besar mereka. Pria, wanita dan anak-anak, semua mengenakan pakaian serba mewah dan bagus-bagus dengan perhiasan yang indah-indah. Haiwan-haiwan ternakan pun dipakaikan bermacam-macam perhiasan dan diarak orang-orang untuk disembelih di hadapan patung-patung sesembahan mereka.

Sambil menyandarkan badannya pada dinding Ka’bah, Zaid berucap, “Wahai kaum Qurasy! Haiwan itu diciptakan Allah. Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit supaya haiwan-haiwan itu minum sepuas-puasnya. Dia-lah yang menumbuhkan rumput-rumput supaya haiwan-haiwan itu makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian, kalian sembelih haiwan-haiwan itu tanpa menyebut nama Allah.SWT Sungguh bodoh dan sesatlah kalian.

Tersentak, Al-Khathab, ayah Umar bin Khathab, berdiri menghampiri Zaid, lalu ditamparnya Zaid. Kata Al-Khathab, “Kurang ajar kamu! Kami sudah sering mendengar kata-katamu yang kotor itu, namun kami biarkan saja. Kini kesabaran kami sudah habis!” Kemudian, dihasutnya orang-orang bodoh supaya menyakiti Zaid. Zaid benar-benar dimusuhi. Akhirnya ia menyingkir dari Makkah ke bukit Hira.

Untuk menemui keluarganya di kota, Zaid terpaksa datang sembunyi-sembunyi. Pasalnya, beberapa pemuda Quraisy selalu mengawasinya. Di saat orang-orang leka, Zaid berkumpul bersama Waraqah bin Naufal. Abdullah bin Jahsy, Utsman bin Harits, dan Umaimah binti Abdul Muthallib, bibi Muhammad Saw. Mereka berbincang soal kepercayaan masyarakat Arab yang telah jauh melencong dari agama Ibrahim.

Lantaran hal itu, Zaid mengajak keempat orang itu untuk mencari dan mempelajari kembali agama yang lurus. Mereka lalu mulai menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang murni. Waraqah bin Naufal meyakini agama Nasrani. Abdullah bin Jahsy dan Utsman bin Harits tidak menemukan apa-apa. Sementara itu Zaid telah mempelajari agama Yahudi dan Nasrani, tapi masih juga tak puas, sampai akhirnya bertemu dengan seorang rahib yang memberi tahu bahwa Allah akan mengirimkan seorang Nabi dari kalangan bangsa Arab. Oleh karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke Mekah. Di tengah jalan beliau terbunuh oleh kawanan perampok sehingga tak sempat kembali ke Mekah. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Zaid sempat berdoa, “Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku, Said, diharamkan pula daripadanya.”

Allah memperkenankan doa Zaid. Ketika Rasulullah mulai mengajak orang banyak untuk masuk Islam, Said segera memenuhi panggilan beliau, menjadi pelopor orang-orang dalam mengimani kepada Allah dan membenarkan kerasulan Muhammad Saw. Tidak mengherankan kalau Said secepat itu menyambut seruan Nabi Muhammad. Said lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy yang sesat. Said dididik oleh seorang ayah yang sepanjang hidupnya tak kenal menyerah mencari agama yang hak. Bahkan ia wafat pun ketika dalam misi pencarian kebenaran agama Ibrahim.

Tak Pernah Tidak Berperang


Said bin Zaid masuk Islam bersama istrinya Fathimah binti Al-Khathab sebelum usia 20 tahun. Istrinya adalah adik Umar bin Khathab (dikenal sebagai Ummu Jamil, tapi berbeda dengan Ummu Jamil istri Abu Lahab yang dilaknat dalam Quran). Di saat awal keislamannya, Said bin Zaid pernah diikat oleh Umar bin Al-Khathab (kala itu Umar belum masuk Islam) dan dipaksa melepaskan kepercayaan barunya itu. Bersama dengan istrinya, ia juga pernah dipukul oleh Umar. Namun, yang terjadi kemudian justeru sebaliknya. Berkat kesabaran Said dan Fathimah, hati Umar bin Khathab yang semula keras memusuhi Islam pun luluh di hadapan keduanya. Seorang laki-laki Quraisy yang paling berpengaruh, berbobot baik fisik maupun intelektualnya, itu merengkuh cahaya hidayah di rumah adiknya.
Said adalah seorang sahabat yang berkesempatan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, kecuali pada perang Badar. Saat itu ia diperintahkan Rasulullah untuk berjaga di pantai Laut Merah bersama Thalhah dan mengintai rombongan kafilah dagang Quraisy yang tengah menempuh perjalanan pulang dari Syiria. Saat itu beliau berjumpa dengan rombongan Abu Sufyan. Ketika Said dan Thalhah kembali ke Madinah, ternyata Rasulullah beserta semua sahabat sudah lebih dulu bertolak ke Badar. Menyesal mereka tak dapat turut serta dalam perang Badar.

Prajurit Islam ini turut pula mengambil bagian bersama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia dan menggulingkan kekaisaran Rum. Dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin, ia selalu memperlihatkan penampilan dengan reputasi terpuji. Ia menceritakan keadaan perang Yarmuk yang diikutinya.

Berkata Said, “Ketika terjadi perang Yarmuk, pasukan kami hanya berjumlah 24.000 orang, sedangkan tentara Rum berjumlah 120.000 orang. Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangan-tangan tersembunyi. Di muka sekali pendeta-pendeta, perwira-perwira tinggi dan paderi-paderi berderet membawa kayu salib sambil mengeraskan doa. Doa itu diulang-ulang oleh tentara yang berbaris di belakang mereka dengan suara mengguntur.

Tatkala tentara kaum muslimin melihat musuhnya seperti itu, kebanyakan mereka terkejut, lalu timbul rasa takut di hati mereka. Abu Ubaidah bangkit mengobarkan semangat jihad. Abu Ubaidah menyerukan, ‘Wahai hamba-hamba Allah! menangkan agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu dan memberikan kekuatan kepada kamu! … Tabahkan hati kalian, karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran, jalan mencapai keridaan Allah dan menolak kehinaan. Siapkan lembing dan perisai! Tetaplah tenang dan diam, kecuali mengingat Allah dalam hati kalian masing-masing.’

Setelah itu, kaum muslimin mulai maju menghalau musuh. Dan tanpa terasa, perasaan takut yang tadinya mendominasi benak mereka, hilang seketika. Akhirnya, Allah memberikan kemenangan besar bagi kaum muslim.


Sesudah itu Said bin Zaid turut berperang menaklukan Damsyiq (Damaskus). Setelah kaum muslimin memperlihatkan ketaatan dan kepatuhan, Abu Ubaidah bin Jarrah mengangkat Said bin Zaid menjadi wali di sana. Dialah wali kota pertama dari kaum muslimin setelah kota itu dikuasai.

Sengketa Tanah


Di masa pemerintahan Bani Umayyah, Arwa binti Aus menuduh Said bin Zaid merampas tanahnya yang saling berbatasan. Tuduhan tersebut disebarkan kepada kaum muslimin. Kemudian ia mengadukan persoalan ini kepada Marwan bin Hakam, gubernur Madinah ketika itu.

Marwan mengirim beberapa petugas untuk mengklarifikasi kepada Said tentang tuduhan wanita tersebut. Kata Said, “Dia menuduhku menzaliminya (merampas tanahnya yang berbatasan dengan tanahku), bagaimana mungkin aku akan menzaliminya, padahal aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa yang mengambil tanah orang lain walau hanya sejengkal, nanti di hari kiamat Allah akan memikulkan tujuh lapis bumi di atas lehernya.’

Wahai Allah! Dia menuduh saya menzaliminya. Seandainya tuduhan itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya dengan saya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak saya dan bahwa saya tidak pernah menzaliminya.”

Tidak berapa lama kemudian, banjir besar melanda Madinah. Maka terbukalah tanda batas tanah Said dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum muslimin memperoleh bukti, Said yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu. Hanya sebulan antaranya selepas itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika ia berjalan meraba-raba di tanah yang dipersengketakannya, iapun terjatuh ke dalam sumur.

Rupaya, kejadian ini menjadi kenangan tersendiri di kalangan penduduk Madinah. Sampai-sampai, sahabat Abdullah bin Umar mengatakan, “Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, ‘Dibutakan Allah kamu seperti Arwa.’”

Sepenggal kisah sahabat Said ini mudah-mudahan mampu membuka mata hati kita untuk meneladani kebaikan-kebaikannya.*